Meski begitu, WHO mengatakan tidak perlu ada kepanikan berlebih. Omar Saleh, juru bicara WHO untuk Yaman mengatakan wabah terjadi hanya di satu tempat, yakni di ibukota Yaman, Sanaa, dan belum menyebar ke daerah lain.
"Seluruh kasus terjadi di satu daerah, dan pasien tinggal di wilayah yang sama. Tidak ada penyebaran ke wilayah lain sehingga masyarakat tidak perlu panik," tutur Saleh, dikutip dari Reuters.
Baca juga: Air Kotor Mengancam Nyawa Lebih dari 300 Juta Orang di Dunia
Saleh mengatakan hingga saat ini belum ada pasein yang meninggal. Selain itu, belum ada laporan soal adanya kasus kolera di daerah lain di Yaman, termasuk di kamp pengungsian di luar Sanaa.
Perang yang terjadi di Yaman memang meningkatkan risiko terjadinya wabah kolera akibat banyaknya penduduk yang harus mengungsi. Seperti diketahui, kolera gampang menyebar di lingkungan yang sanitasi air dan makanannya buruk seperti kamp pengungsian.
Saleh juga menambahkan tidak beroperasinya sekolah dan rumah sakit akibat perang membuat penanganan wabah semakin sulit. Bahkan setengah dari pusat kesehatan di pengungsian tidak lagi beroperasi akibat tidak adanya pendanaan dari Kementerian Kesehatan.
Kolera sendiri merupakan penyakit dunia ketiga yang sering muncul di negara yang sedang dilanda perang, terkena bencana alam atau tidak memiliki sistem sanitasi yang baik. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae yang berkembang biak dan menyebar melalui kotoran manusia.
Bakteri tersebut dapat menyebar dan menyebabkan wabah dengan sangat cepat bila mengontaminasi air dan makanan. Selain itu, kolera merupakan penyakit infeksi usus yang bersifat akut atau dapat memburuk dengan cepat.
Penyakit ini menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan dalam waktu singkat akibat diare dan muntah yang dialami pasien. Dalam beberapa jam saja, pasien dapat meninggal akibat dehidrasi. Itulah mengapa kolera bisa sangat mematikan jika tidak segera ditangani.
Baca juga: Kolera Merebak di Haiti Sejak 6 Tahun Lalu, PBB akan Turun Tangan(mrs/vit)
0 Response to "Wabah Kolera Terjadi di Yaman, WHO: Tidak Perlu Panik Berlebihan"
Posting Komentar