Namun, psikolog Ratih Zulhaqqi, M.Psi menegaskan bahwa kita tidak dapat mengatakan seseorang mengidap mythomania sebelum dilakukan pemeriksaan psikologis.
"Belum dipastikan dia mythomania, walau ada perilaku yang mengarah ke sana. Harus ada pemeriksaan lebih lanjut untuk menegakkan diagnosis," ujar psikolog, Ratih Zulhaqqi, M.Psi kepada detikHealth, Senin (9/10/2017).
Baca juga: Dwi Hartanto Idap Mythomania? Psikolog: Harus Lewati Pemeriksaan
Terlepas dari itu, Ratih mengatakan bahwa mythomania sendiri memiliki gejala yang berkaitan dengan social climber, yaitu menunjukkan perilaku seseorang untuk meningkatkan status sosialnya. Caranya dengan melakukan segala hal agar mendapat pengakuan status sosial lebih tinggi dari status yang sebenarnya, termasuk berbohong.
"Iya biar terlihat lebih tinggi dan mendapat perhatian dari orang lain," tambah Ratih.
Senada dengan yang dituturkan Ratih, psikolog klinis dari Klinik Personal Growth, Veronica Adesla, M.Psi berujar bahwa para social climber sangat bersahabat dengan orang-orang dari kelas sosial lebih tinggi ini.
"Seorang social climber umumnya memiliki kecerdasan sosial yang baik, yang memungkinkannya untuk memanipulasi, menipu, ataupun memanfaatkan orang lain. Bentuk manipulasi dan tipuannya, bisa sangat bervariasi tergantung pada situasi dan kondisi," tutupnya.
Baca juga: Kebohongan Seperti Dilakukan Dwi Hartanto Bisa Jadi karena Kebiasaan(wdw/up)
0 Response to "Gejala Mythomania Ternyata Berkaitan dengan Social Climber"
Posting Komentar