Hal ini juga diakui Bupati Gunungkidul, Badingah, S.Sos., sebaran penduduk yang tidak merata ditambah kontur wilayah yang tak menentu menyulitkan kabupaten ini untuk dijangkau program pembangunan dari pemerintah.
"Gunungkidul memang sudah tidak termasuk sebagai daerah tertinggal oleh Kementerian Desa dan Daerah Tertinggal. Namun kategori penduduk miskinnya tertinggi di DIY," katanya di sela-sela kunjungan kerja Menteri Kesehatan RI, Nila Moeloek di Gunungkidul, Yogyakarta, Rabu (26/10/2016).
Kondisi ini ikut menghambat upaya peningkatan kualitas kesehatan di kabupaten ini. Belum lagi akses masyarakat Gunungkidul ke fasilitas layanan kesehatan juga terbilang sulit, seperti lokasi yang berjauhan. Untuk itu tantangan ini berusaha diantisipasi dengan peningkatan upaya preventif dan promotif, salah satunya melalui stop buang air sembarangan.
Di sisi lain, staf ahli sosial budaya dan hubungan masyarakat DIY, Bayu Haryono mengakui masih ada masyarakat DIY yang buang air besar sembarangan, salah satunya karena banyak wilayah yang masih berupa alam terbuka.
"Bisa di sungai atau pantai. Selain karena kurangnya kesadaran masyarakat dan BAB sembarangan sudah menjadi kebiasaan," timpalnya.
Meski begitu, sejak tahun 2011, 402 dari 438 desa di DIY telah mencanangkan diri sebagai desa yang berkomitmen untuk menjalankan Sanitasi Terpadu Berbasis Masyarakat (STBM). Baginya, menyatakan diri sebagai wilayah yang bebas buang air besar sembarangan adalah salah satu indikator yang bisa menunjukkan besarnya komitmen masyarakat terhadap peningkatan kualitas kesehatan mereka.
Baca juga: Duh! 35 Persen Warga Sebuah Dusun di Pelosok Kulonprogo Belum Punya Jamban
"Alhamdulillah, respons masyarakat juga baik (sosialisasi Stop Buang Air Sembarangan, red)," ungkap Badingah.
Pihaknya juga mendukung program ini dengan Surat Edaran Bupati yang mewajibkan setiap camat untuk memetakan ketersediaan jamban di wilayah masing-masing. Laporan ini lantas ditindaklanjuti dengan Peraturan Bupati yang mendasari pemberian bantuan pembuatan jamban untuk masyarakat.
|
Dalam kesempatan yang sama, 18 camat dari kabupaten Gunungkidul juga mendeklarasikan komitmen masyarakat mereka untuk Stop BABS (Buang Air Besar Sembarangan) secara serentak.
Bayu menambahkan 194 desa di DIY telah bebas dari kebiasaan buang air besar sembarangan. "DIY sudah 99 persen (bebas buang air sembarangan, red)," timpal Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DIY, drg Pembayun Setyaningastutie, MKes.
Sisanya masih ada, meski tersebar di sejumlah daerah seperti Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman.
Baca juga: Sanitasi Lingkungan yang Baik Bantu Kurangi Jumlah Stunting(lll/vit)
0 Response to "Ini Alasannya Gunungkidul Butuh Komitmen Stop BAB Sembarangan"
Posting Komentar