Faktor Tidak Tahu Jadi 'Batu Sandungan' Penanganan Katarak di Indonesia

Yogyakarta, Katarak merupakan penyebab kebutaan tertinggi di Indonesia. Namun ini tidak sesuai dengan fakta di lapangan yang menyimpulkan bahwa mayoritas orang Indonesia tak tahu-menahu tentang kondisi ini.

Sebenarnya tidak hanya di Indonesia, di hampir semua negara berkembang, penyakit mata yang satu ini selalu menjadi masalah utama terkait kesehatan mata. Pemicunya beragam, terbanyak karena usia, disusul dengan faktor genetik, kebiasaan merokok, paparan ultraviolet, penyakit diabetes dan konsumsi obat-obatan jenis steroid.

Namun menurut hemat Prof dr Suhardjo, SU, SpM(K) dari Fakultas Kedokteran UGM-RSUP Dr Sardjito, dari sejumlah penelitian terungkap bahwa faktor terbesar dari katarak setelah usia adalah tingkat sosio ekonomi dan pendidikan yang rendah.

"Ambil contoh untuk mencegah katarak adalah dengan makan antioksidan. Kalau pendidikannya rendah, dia nggak tahu, dan kalau dia miskin, dia nggak bisa beli," jelasnya kepada wartawan di Poli Mata RSUP Dr Sardjito baru-baru ini.

Baca juga: Kebutaan Permanen karena Sakit Gula Bisa Dicegah Pemeriksaan Tiap 5 Tahun

Pernyataan ini juga sesuai dengan hasil Riset Kesehatan Dasar 2013 yang menyebut sejumlah alasan mengapa penduduk Indonesia yang mengidap katarak tak segera menjalani operasi. Padahal katarak tergolong penyakit mata yang mudah disembuhkan, hanya dengan sekali operasi.

Tak tanggung-tanggung, riset mencatat 51,6 persen pasien katarak di Indonesia tidak tahu mengenai penyakit katarak yang dideritanya, ditambah lagi mereka tidak tahu jika buta katarak bisa dioperasi atau direhabilitasi.

Sedangkan faktor lain seperti tidak dapat membiayai operasi (11,6 persen) dan tidak berani (8,1 persen) dirasa Prof Suhardjo masih bisa tertangani. Semisal bila pasien memilih untuk melakukan operasi di RSUP Dr Sardjito, maka biayanya dapat ditanggung oleh BPJS.

"Sardjito juga bekerjasama dengan sejumlah LSM, baik dalam dan luar negeri yang bisa membantu meringankan biaya operasi yang dibebankan ke pasien," tuturnya.

Baca juga: Punya Riwayat Glaukoma dalam Keluarga? Ayo Segera Periksakan Diri

Prof Suhardjo mengingatkan, jangan sampai ketidaktahuan dan ketidakberanian ini akan menyebabkan makin banyak pasien yang mengalami kebutaan. "Kalau (penglihatan, red) sudah kabur dan gelap, ya sudah tidak diapa-apakan," katanya.

Lalu kapan seseorang dengan kecenderungan katarak harus dioperasi? Ahli oftalmologi itu mengungkapkan hal ini harus dilakukan bilamana yang bersangkutan sudah tidak bisa membaca tulisan, walaupun menggunakan alat bantu seperti kacamata.(lll/up)

Related Posts :

0 Response to "Faktor Tidak Tahu Jadi 'Batu Sandungan' Penanganan Katarak di Indonesia"

Posting Komentar