Menanggapi hal ini, Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Direktorat Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan RI, dr. Lily S. Sulistyowati, MM mengatakan bahwa tren rokok makin hari makin meningkat.
"Faktor rokok trennya malah meningkat terus. Perokok di Indonesia tertinggi di dunia untuk laki-lakinya, Indonesia juga terkenal dengan baby smoker, sampai mendunia," ujarnya dalam temu media di Gedung Prof Sujudi Kementerian Kesehatan RI baru-baru ini.
Baca juga: Penyakit Asma dan PPOK Tinggi karena Deteksi Belum Tepat
Sementara itu, menurut paparan dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Persahabatan, Prof Faisal Yunus, MD, PhD, PPOK adalah penyakit yang harus diturunkan angka pengidapnya di Indonesia. Saat ini, berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 2012 adalah penyebab kematian ke-6 di Indonesia.
"PPOK merupakan primadona dunia, 17 tahun lagi akan menjadi ketiga tertinggi di dunia. Faktor utamanya merokok, kedua merokok, ketiga merokok, kesepuluh merokok," jelas Prof Faisal.
Prof Faisal juga menambahkan, untuk mengurangi tingginya angka pengidap asma dan PPOK atau gangguan saluran pernapasan lainnya adalah dengan mengurangi faktor risiko dan berhenti merokok.
Untuk membantu berhenti merokok, ia juga memberika tips 5A, yaitu ask adalah menanyakan apakah ingin benar-benar berhenti, advice yaitu memberi nasihat, kemudian assess yaitu menilai orang yang ingin berhenti, assist yaitu membantu, dan arrange adalah merencanakan proses berhenti merokok.
Baca juga: Ingin Hilangkan Kebiasaan Merokok? Lari Saja!(wdw/up)
0 Response to "Rokok Masih Menjadi Faktor Utama Asma dan PPOK"
Posting Komentar