"Ada juga yang mengatakan 1 persen, artinya 1 dari 100 orang di Indonesia mengalami kebutaan," jelasnya kepada wartawan di Poli Mata RSUP Dr Sardjito baru-baru ini.
Meskipun kecil, arti dari persentase ini tak bisa diremehkan. Menurut perhitungan Prof Suhardjo, bila jumlah penduduk Indonesia saat ini berkisar 255 juta orang, 0,4 persen berarti 4,2 juta orang mengalami kebutaan. Padahal angka ini masih belum pasti.
Bahkan di beberapa daerah prevalensi kebutaannya lebih tinggi, terutama di daerah perifer atau pinggiran. Seperti terungkap dalam hasil Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi katarak (penyebab utama kebutaan di Indonesia) pada seumur umur adalah 1,8 persen.
Prevalensi katarak tertinggi di Sulawesi Utara (3,7 persen), diikuti oleh Jambi (2,8 persen) dan Bali (2,7 persen). Sedangkan prevalensi katarak terendah ditemukan di DKI Jakarta (0,9 persen), diikuti oleh Sulawesi Barat (1,1 persen).
"Di Jawa Barat juga masih ada, rata-rata masih di atas 1 persen, kecuali DKI tadi," imbuhnya.
Padahal ahli oftalmologi tersebut mengatakan, jikalau telah mencapai angka di atas 1 persen, itu berarti penanganan kebutaan tak lagi bisa bergantung pada peranan dokter mata saja, tetapi juga peranan sektor lain seperti sosial.
Aplagi Prof Suhardjo menyebut faktor risiko kebutaan tidak semata karena gangguan kesehatan. "Orang miskin itu peluang sakit matanya juga besar, mau berobat juga mahal. Jadi bisa dikatakan kemiskinan menyebabkan kebutaan, begitu juga sebaliknya," katanya.
Baca juga: Jangan Abaikan! Angka Kebutaan Penduduk Berusia di Atas 50 Tahun Meningkat
Ditemui dalam kesempatan yang sama, dr Agus Supartoto, SpM(K) dari Persatuan Dokter Mata Indonesia cabang DI Yogyakarta menyampaikan, oleh karena itu upaya pencegahan terhadap kebutaan harus dinomorsatukan. Sebab sebagian besar persoalan di balik kebutaan sebenarnya tak jauh-jauh dari kurangnya pemahaman terhadap gangguan mata dan juga faktor teknis.
"Di daerah pelosok seperti Wonosari (Gunung Kidul), mereka masih terhambat pada transportasi dan pengetahuan. Ini terbukti ketika baksos, kami menemukan sudah banyak yang tidak bisa dioperasi," keluhnya.
Di daerah yang jauh dari perkotaan, dr Agus juga menemukan banyak kasus kesalahan diagnosis, padahal bila ternyata pasien mengalami glaukoma atau gangguan mata yang berat, ini tentu sudah sulit untuk dipulihkan kembali.
Badan Internasional untuk Pencegahan Kebutaan menyebut, 80 persen kasus kebutaan di dunia dapat dihindari jika masyarakat mendapatkan layanan mata yang komprehensif, dan kunci untuk memelihara kesehatan mata adalah dengan deteksi dini secara teratur.
Baca juga: Hati-hati di Jalan! 50 Persen Manusia Mengidap Motion Blindness(lll/vit)
0 Response to "Ingat, Cegah Kebutaan Tak Bisa Dilakukan Dokter Saja"
Posting Komentar